Pola Asuh Anak Sebagai Cerminan Orang Tua

Buat Info - Pola Asuh Anak Sebagai Cerminan Orang Tua

Ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Artinya seorang anak merupakan cerminan orang tua. Anak akan lebih banyak meniru perilaku, sikap, dan cara hidup yang dimunculkan oleh orang tuanya. Karena proses awal pembelajaran karakter seorang anak di mulai dari lingkungan terkecilnya, yaitu keluarga. Jika pembelajaran di awal dirasa kurang bagus, maka bukan tidak mungkin lagi perkembangan perilaku anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang mereka terima. Oleh karena itu, akan sangat penting bagi orang tua untuk memberikan arahan dan contoh yang bagus agar perkembangan perilaku anak tumbuh dengan baik.


Untuk mendapatkan hasil cerminan yang bagus, tentunya dibutuhkan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak. Dengan pola asuh yang tepat, perkembangan karakter anak akan tumbuh maksimal dan sesuai dengan apa yang diharapkan semua orang tua. Yaitu, memiliki anak dengan akhlak dan perilaku yang baik. Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba memberikan beberapa jenis pola asuh dan dampak dari penerapannya. Dimana hal ini diharapkan bisa menjadi pengetahuan dan bahan pertimbangan bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya.


Terdapat 3 jenis pola dalam mengasuh anak yang mungkin bisa diterapkan oleh orang tua. Dimana 3 jenis tersebut diantaranya adalah:

1. Jenis otoriter
Pola asuh jenis ini lebih menekankan pada sebuah aturan-aturan yang dibuat oleh orang tua dan harus dipatuhi oleh anak-anaknya. Artinya, anak tidak diberikan kesempatan untuk bertanya atau pun mengambil keputusan sendiri dalam segala tindakannya. Aturan yang diberikan oleh orang tua pada jenis pola asuh ini adalah bersifat wajib dan tidak boleh dilanggar oleh anaknya. Jika kedapatan ada anak yang melanggar, maka system punishment akan berlaku.

Dampak pola asuh otoriter : Tidak adanya kebebesan dalam bertanya dan mengambil keputusan. Serta aturan dengan system punishment, akan mendidik anak menjadi sosok yang penakut dan sulit untuk bersosialisasi diluar lingkungan kecilnya. Selain itu, dampak lainnya adalah anak cenderung memilih berbohong untuk menghindari punishment dan akan berlanjut sampai anak itu tumbuh dewasa.


2. Jenis permisif
Jenis pola asuh yang satu ini merupakan lawan dari jenis pola asuh yang di atas. Jika pola asuh otoriter menekankan pada aturan yang bersifat mutlak dan harus dipatuhi oleh sang anak. Maka pola asuh permisif lebih bersifat responsif namun cenderung bebas. Orang tua dengan pola asuh ini cenderung memberikan kebebasan tanpa hukuman kepada anak dalam bertindak. Jadi anak dibebaskan dalam melakukan segala sesuatunya, baik itu bersifat positif atau pun negatif.

Dampak pola asuh permisif : Anak akan tumbuh menjadi sosok yang agresif, mau menangnya sendiri. Selain itu anak juga cenderung mengalami hambatan pada perkembangan sosialnya. Karena anak dengan pola asuh permisif cenderung kurang mandiri sehingga mengalami kesulitan dalam bersosialisa. Sebagaimana anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter seperti di atas.

3. Demokratis
Pola asuh demokratis merupakan jenis pola asuh yang beda sendiri dari kedua jenis di atas. Baik sacara aplikasi atau pun dampaknya. Pada pola asuh demokratis, orang menjadi sosok penentu peraturan, namun orang tetap memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya mengenai alasan kenapa peraturan tersebut dibuat. Selain kesempatan bertanya, anak juga diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atas peraturan yang sudah dibuat selama keberatan yang dimaksud masih rasional.

Pola asuh demokratis ini, secara tidak langsung mendorong anak untuk bersikap mandiri, membangun emosional anak dengan cara mengasihi dan menghargai sang anak. Dalam pola asuh yang satu ini, anak akan merasa dihargai keberadaannya karena orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis akan lebih senang membicarakan segala sesuatunya dan mendengarkan sang anak.

Dampak pola asuh demokratis : Anak dengan pola asuh demokratis akan tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, secara perkembangan emosional, anak dengan pola asuh demokratis akan lebih matang dari anak dengan pola asuh otoriter dan permisif.


Kita sebagai orang tua sejatinya harus pandai dalam mendidik anak-anak kita. Agar apa yang menjadi pengharapan kita terhadap anak-anak kelak, bisa kita rasakan dan dapatkan. Anak merupakan cerminan orang tua yang merupakan brand keluarga yang notabene akan menjadi penilaian kaca mata sosial. Jadi penting bagi kita untuk lebih bijak menerapkan pola asuh untuk anak-anak kita. Demikianlah akhir dari tulisan ini. Semoga apa yang menjadi inti dari tulisan ini, dapat memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya orang tua sebagai penerima amanah.

0 komentar