Waspada 6 Penyebab Istri Berubah Jadi Pemarah

Buat Info - Waspada 6 Penyebab Istri Berubah Jadi Pemarah

Menjalani bahtera rumah tangga

sejatinya tidak semudah apa yang difikirkan. Problematika dalam rumah tangga akan terus menerus bermunculan seiring dengan berjalannya waktu. Dimana masalah-masalah yang akan dihadapi tersebut notabene menjadi pemicu pertengkaran antara suami istri yang bisa berujung pada kasus perceraian. Berbagai ragam masalah yang menjadi pewarna dalam rumah tangga, baik dari masalah kecil atau pun besar yang semunya itu akan mempengaruhi emosional istri. Maka tidak jarang kita temui banyak istri yang berubah menjadi pemarah justru setelah mereka menikah.


Sifat pemarah pada istri bukan karena tanpa sebab. Tentunya perubahan tersebut ada pemicunya, dimana pemicu yang dimaksud biasanya kebanyakan berasal dari intern keluarga, bisa dari suami, anak, dan dirinya sendiri. Untuk lebih jelasnya mengenai pemicu perubahan istri menjadi pemarah, pada kesempatan kali ini, kita akan coba membahas 6 penyebab istri berubah jadi pemarah. Dimana artikel kali ini diupayakan mampu memberikan pemahaman bagi suami sebagai kepala rumah tangga, agar terus berbuat yang terbaik untuk keberlangsungan bahtera rumah tangganya.

Penyebab Istri Berubah Jadi Pemarah

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, terdapat 6 penyebab istri berubah jadi sosok yang pemarah, selain karena datang bulan dan dalam kondisi hamil. Dimana penyebab tersebut diataranya adalah:


1. Kurangnya perhatian dari suami
Aktivitas yang dilakukan seorang istri setiap harinya tentu menguras tenaga dan fikiran. Karena sejatinya seorang istri di rumah tidak memiliki jam kerja sebagaimana jam kerja suami di kantor yang hanya 8 jam kerja saja. Tidak begitu dengan kerjanya seorang istri di rumah, selama masih ada kehidupan di dalam rumah, disitu istri tetap terjaga untuk terus beraktivitas. Sehingga, secara psikis tentunya seorang istri sangat menginginkan adanya perhatian penuh dari seorang suami. Karena perhatian tersebut mampu mengurangi rasa capek setelah beraktivitas seharian. Jadi dapat dipastikan, seorang istri yang kurang mendapatkan perhatian dari suaminya, cenderung lebih mudah marah dan terpancing emosinya dari pada mereka yang selalu mendapatkan perhatian dari sang suami.


2. Suami terlalu sibuk
Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk mencari nafkah bagi anak istri di luar rumah. Namun, hal itu bukan menjadi alasan untuk tidak meluangkan waktu bagi keluarga. Mengingat bukan hanya nafkah dalam bentuk nominal saja yang dibutuhkan oleh keluarga di rumah, melain juga nafkah batin seperti waktu dan tenaga sangatlah dibutuhkan khususnya oleh seorang istri. Meluangkan waktu untuk keluarga memanglah merupakan hal yang sepele, namun hal sepele tersebut bisa menjadi bencana jika kita abaikan. Jadi penting bagi seorang suami untuk tidak menyibukkan diri di luar rumah, jika tidak ingin melihat istrinya berubah menjadi sosok yang emosional.


3. Suami kurang romantis
Sudah menjadi sifat seorang perempuan dalam menyikapi sesuatu selalu menggunakan perasaan dari pada logika. Jadi akan sangat perlu sekali kita sebagai seorang suami untuk selalu menunjukkan sikap romantis kepada istri kita, baik di dalam rumah atau pun di luar rumah. Pelukan dan kata-kata romantis akan mampu mengurangi tingkat stress seorang istri. Suami yang selalu bersikap cuek terhadap istri, justru akan menjadi stressor bagi seorang istri. Yang mana jika sudah pada waktunya istri tidak lagi bisa menahannya, maka pertengkaran tidak lagi dapat terelakkan.


4. Suami tidak membantu kesibukan di rumah
Seperti yang kita singgung di point satu di atas. Aktivitas seorang istri tidak ada berhentinya setiap hari. Dari mulai bersih-bersih rumah, cuci piring dan baju, mandiin anak-anak (belum lagi rewelnya), memasak, dan aktivitas lainnya. Jika dipikir secara logika, sangat tidak mungkin semua aktivitas tersebut hanya dikerjakan oleh satu orang saja, apa lagi oleh seorang perempuan. Namun nyatanya semua itu bisa terselesaikan setiap harinya. Dengan catatan capek fisik dan psikis tentunya. Jika seorang suami tidak pernah membantu pekerjaan istri di rumah, maka bukan tidak mungkin lagi istri akan lebih mudah terpancing emsosinya karena secara fisik dan psikis sudah dalam keadaan lelah.


5. Masalah keuangan
Untuk yang satu ini, seorang perempuan terlalu sensitif. Bukan karena mereka matre, melainkan karena mereka berfikir realistis. Banyaknya kebutuhan di rumah seperti kebutuhan dapur, anak-anak, dan dirinya. Menjadikan seorang istri sedikit sensitif untuk urusan uang. Jadi jika suami tidak menginginkan istrinya di rumah gampang marah, cukupkanlah keuangan di rumah. Dari cukup untuk urusan dapur, cukup untuk kebutuhan anak-anak, dan cukup untuk kebutuhan si istri di rumah.


6. Kebutuhan tidak terpenuhi
Setiap manusia tentunya memiliki beberapa kebutuhan untuk pemenuhan hidupnya. Dimana kebutuhan tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Dari kedua kebutuhan tersebut, sebagian terangkum dalam point satu sampai dengan point lima di atas. Jadi jika dari beberapa kebutuhan di atas tidak dapat dimengerti dan dipenuhi oleh seorang suami. Maka bukan tidak mungkin lagi ancaman masalah rumah tangga akan terus bermunculan. Dan akan menggangu kehidupan psikologis dan fisiologis seisi rumah, sehingga rumah tangga tersebut akan terlihat utuh namun rapuh.


Dalam usaha mencapai keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Tentunya suami sebagai sosok kepala rumah tangga harus harus terus berupaya dalam memberikan ketenangan bagi seisi rumah. Dan untuk itu, perlu kiranya seorang suami memberikan waktu, tenaga, dan fikiran untuk istri di rumah agar sosok kelembutan dalam diri seorang istri tetap terjaga.

0 komentar