Waspada Bahaya Media Sosial Sebagai Pemicu Depresi


Buat Info - Waspada Bahaya Media Sosial Sebagai Pemicu Depresi

Penggunaan media sosial

atau yang biasa kita kenal dengan medsos, sudah menjadi kebutuhan gaya hidup di era millennial seperti saat ini. Ketergantungan akan sebuah media interaksi secara virtual seperti facebook, Instagram, tweeter, dll, mendorong seseorang untuk terus menggunakan media online dalam berinteraksi dengan orang lain. Ketergantungan akan media interaksi secara online ini dikarenakan adanya kemudahan dalam berbagi dan berpartisipasi untuk segala hal. Seperti misal, kemudahan dalam berbagi informasi dan berpartisipasi dalam forum komunikasi yang banyak tersebar di internet.


Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial, memungkinkan kita untuk terus berinteraksi dan berbagi foto atau video dengan orang lain yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita temui. Begitu juga sebaliknya, kita akan dengan mudah melihat foto dan video yang orang lain upload di media sosial. Namun dibalik kemudan tersebut, diketahui ada hal-hal yang akan berdampak negatif terhadap psikis penggunanya, seperti depresi dan ketidak stabilan emosi. Kecenderungan pengguna media sosial seperti facebook atau Instagram, akan membandingkan dirinya dengan konten foto atau video yang orang lain upload di media sosial. Sehingga jika konten yang dilihat lebih menarik dari dirinya akan memunculkan reaksi kekecewaan terhadap diri si pengguna. Dan inilah yang akan memicu seseorang tersebut mengalami depresi dan ketidak stabilan emosi.


Dari salah satu uji studi yang pernah dilakukan oleh Jordyn Young, Amerika Serikat, terhadap 143 mahasiswa Universitas Pennsylvania. Diketahui bahwa mahasiswa yang tidak menggunakan media sosial cenderung mampu menata kualitas kesejahteraan hidupnya. Sehingga orang tersebut akan terhindar dari resiko depresi dan ketidak stabilan emosi. Dalam studi lain yang dilakukan oleh Psikolog Melissa Hunt ditemukan bahwa orang-orang yang menggunakan media sosial, memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku yang disebut oleh Hunt sebagai perbandingan sosial ke bawah. Dimana perilaku tersebut cenderung mengasumsikan orang lain lebih keren, dan hidupnya lebih bahagia dibandingkan dengan dirinya. Dan asumsi seperti inilah yang dapat memicu terjadinya depresi bagi pengguna media sosial.


Dari beberapa hasil penelitian di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa media sosial sedikit banyak menyumbang munculnya resiko depresi dan ketidak stabilan emosi pada diri seseorang. Hal tersebut bisa disebabkan oleh ketidak siapan penerimaan diri terhadap kondisi atau informasi yang berhubungan dengan orang lain, yang dianggapnya jauh lebih keren dan lebih bahagia. Jadi akan sangat penting sekali bagi kita sabagai pengguna media sosial untuk lebih bijak dalam menggunakan media interaksi secara virtual tersebut [baca juga: Bijak Menggunakan Media Sosial].


Dengan lebih memilih untuk melakukan interaksi secara langsung dengan keluarga terdekat atau dengan orang lain. Tentunya akan lebih menekan resiko depresi dan ketidak stabilan emosi. Sehingga kualitas kesejahteraan hidup akan lebih terjamin. Mengingat dengan berinteraksi secara langsung kita lebih dapat menerima umpan balik kebahagian secara nyata tanpa pengaruh persepsi-persepsi dari diri sendiri.

4 komentar

  1. Informasinya sangat membantu dan sangat bermanfaat bagi saya mas,

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah mampir.... semoga bis diambil faedahnya dari artikel di atas mas.... :)

      Delete
  2. terimakasih infonya, makanya harsu bertangung jawab dalam hal bermedsos ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups betul sekali.... dengan bijak menggunakan media sosial, tentunya akan menghindarkan kita dari mudorotnya media sosial... :). terima kasih sudah mampir

      Delete