Dampak Psikologis Cyberbullying Terhadap Remaja

Buat Info - Dampak Psikologis Cyberbullying Terhadap Remaja

Usia remaja

merupakan fase kehidupan yang penuh dengan dinamika karena pada usia tersebut merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke remaja sehingga usia remaja ini bisa dikatakan sebagai usia labil. Sedangkan penggunaan tekonologi informasi di kalangan remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun. Para remaja disinyalir dapat menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam dalam satu minggu untuk mengakses internet. Remaja putra menggunakan internet untuk keperluan online, seperti membuka web dan bermain game online. Sedangkan remaja putri menggunakan internet untuk keperluan jejaring sosial, seperti chatting, dan belanja produk online shop. Intensitas tinggi dalam menggunakan internet memungkinkan remaja untuk memiliki pengalaman yang lebih luas di luar pengalaman-pengalaman yang diperoleh di rumah, sekolah dan lingkungan sosialnya. Namun dari itu semua tidak menutup kemungkinan mengakibatkan adanya perilaku menyimpang yang dilakukan dalam internet. Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja tersebut seperti cyberbullying.




Dampak Psikologis Cyberbullying

Perilaku cyberbullying dapat memberikan dampak Psikologis yang cukup menghawatirkan. Dimana dampak psikologis tersebut antara lain:

1. Depresi
2. Kecemasan berlebih karena hawatir kejadian serupa diulang lagi oleh pelaku
3. Selalu merasa tidak nyaman dan aman pada saat menghadapi situasi yang sama
4. Emosional tidak stabil, lebih sensitif dan cenderung sering menangis
5. Mengalami penurunan Prestasi di sekolah karena hilangnya konsentrasi
6. Menarik diri dari lingkup sosialnya (teman sebaya),
7. Muncul hasrat menjadi pelaku (balas dendam), dan
8. Hasrat ingin bunuh diri

Cyberbullying yang dialami remaja secara terus menerus akan memicu munculnya stres berat, menurunkan rasa percaya diri sehingga mendorong mereka untuk melakukan perilaku yang menyimpang seperti bolos sekolah, tawuran, lari dari rumah, dan mengkonsumsi minuman keras atau menggunakan obat-obatan terlarang. Cyberbullying juga dapat membuat mereka menjadi individu yang pemurung, memiliki tingkat kekhawatiran yang tingg, dan selalu menempatkan dirinya sebagai sosok yang bersalah atau gagal. Dan dampak psikologis yang paling menghawatirkan adalah dimana korban cyberbullying berupaya untuk mengakhiri hidupnya atau bunuh diri yang disebabkan ketidak mampuannya dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi.


Kekerasan cyberbullying terhadap remaja jika tidak segera diselesaikan secara maksimal, dihawatirkan akan memicu munculnya perilaku menyimpang yang berakibat fatal seperti yang tersebut di atas. Maka tindakan-tindakan preventif harus segera dilakukan untuk mengendalikan masalah- masalah tersebut. Tindakan preventif bisa dilakukan mulai dari diri sendiri, seperti membangun tingkat kesadaran dalam penggunaan teknologi informasi, dan mulai menanamkan sikap kearifan sejak dini agar bijak dalam menggunakan media sosial. Peran keluarga dan bimbingan orang tua pun juga sangat diperlukan, seperti dengan selalu memberikan pendampingan kepada anak pada saat menggunakan media online khususnya jejaring sosial, serta mengimplementasikan sikap terbuka satu sama lain antar masing-masing anggota keluarga.


Di samping dimulai dari diri sendiri dan peran orang tua, tindakan preventif tentu akan berjalan dengan efektif jika ada dukungan pemerintah. Revolusi mental yang diprogramkan oleh pemerintah sejak pertengahan tahun 2015 lalu diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan mental masyarakat di Indonesia, khususnya para remaja yang notabene sebagai generasi penerus. Pada saat ini Indonesia tengah dihadapkan pada problematika krisis mental generasi muda. Yang mana hal tersebut dijabarkan oleh data survey global yang dilakukan oleh Latitude News, yang diketahui bahwa Negara Indonesia merupakan Negara dengan kasus cyberbullying tertinggi di dunia setelah Jepang. Revolusi Mental merupakan langkah tepat yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kepribadian bangsa yang sudah hampir mencapai pada taraf rusak. Dengan program revolusi mental ini diharapkan masyarakat khususnya para remaja sebagai generasi muda, kembali memiliki nilai-nilai positif yang dianut oleh generasi sebelumnya, dan tentunya program pemerintah ini memerlukan dukungan penuh dari segenap masyarakat dalam segala aspek kehidupan.


Demikianlah informasi mengenai dampak Psikologis cyberbullying terhadap remaja. Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat dan pemahaman kepada kita semua akan bahayanya dampak cyberbullying itu sendiri. Diharapkan juga dengan ini, kita bisa menjadi bagian dari penggerak revolusi mental yang dicanangkan pemerintah, agar generasi penerus tidak lagi mengalami krisis moral yang berkepanjangan.

0 komentar