Menyikapi Fenomena Begal di Kalangan Masyarakat

Buat Info - Menyikapi Fenomena Begal di Kalangan Masyarakat

Aksi pembegalan

akhir-akhir ini cukup meresahkan banyak masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di daerah-daerah rawan aksi pembegalan. Daerah atau kota di Jawatimur yang disinyalir sering terjadi aksi pembegalan adalah kota Malang, Pasuruan, dan Lumajang. Di lumajang sendiri baru-baru ini, tepatnya pada hari Sabtu malam tanggal 21 September 2019, telah diberitakan terjadi pembegalan yang sampai menewaskan korbannya. Korban dari aksi pembegalan tersebut diketahui merupakan salah satu warga Jember yang pada saat itu melintas di kawasan rawan begal, di kota Lumajang. Sebelumnya, di kota Malang juga diberitakan ada seorang pemuda yang nekat menikam pelaku begal karena pelaku begal hendak melecehkan pacarnya. Sungguh sangat ironis sekali, dimana Indonesia yang merupakan negara hukum, namun masih banyak bermunculan fenomena begal di kalangan masyarakat yang merupakan aksi pencurian dengan kekerasan.


Secara definisi, begal merupakan aksi pencurian dengan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk mengambil paksa milik orang lain. Motif penyebabnya pun beragam, ada yang karena faktor ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup, faktor geografis atau eksternal seperti pengaruh lingkungan yang buruk, faktor internal seperti kurangnya pengawasan dari orang tua, dan pengaruh obat-obatan dan minuman keras seperti yang pernah disampaikan oleh Psikolog ahli forensik, Reza Indragiri Amriel bahwa aksi pembegalan telah menyimpang dan menunjukkan gangguan rasional, yang diduga karena pengaruh obat-obatan dan minuman keras. Notabene, orang di bawah pengaruh obat-obatan dan minuman keras tentu akan bertindak berlebihan diluar kewajarannya. Jadi tidak heran jika pelaku begal sampai tega melukai bahkan menghabisi nyawa si korban dengan tanpa belas kasih.


Dalam upaya menyikapi fenomena begal ini, tidak sedikit masyarakat yang mulai geram dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku begal. Bahkan sebagian masyarakat di beberapa daerah sepakat untuk melakukan aksi pemberantasan komplotan begal yang keberadaannya cukup meresahkan banyak warga. Pun demikian dengan pihak kepolisian khususnya di daerah rawan begal seperti Lumajang contohnya, dimana kapolres lumajang AKBP M. Arsal Sahban, sangat mengecam segala tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kawanan begal dengan menuliskan himbauan kepada masyarakat untuk melawan setiap aksi pembegalan di akun sosial facebooknya seperti di bawah ini.
Buat Info - Menyikapi Fenomena Begal di Kalangan Masyarakat


Langkah yang diambil oleh Kapolres Lumajang ini bukan tanpa sebab. Mengingat aksi kekerasan oleh komplotan begal sudah sangat merasahkan masyarakat banyak dan harus segera diselesaikan sampai ke akar-akarnya, karena dampak yang ditimbulkan dari aksi begal sangat begitu merugikan khususnya bagi mereka yang menjadi korban. Dimana korban dari aksi ini akan mengalami kerugian secara materi, psikis, fisik, bahkan sampai meninggal dunia. Pada tanggal 23 September 2019, Polres lumajang menggelar operasi sekala besar sabagai langkah antisipatif terhadap aksi begal. Kurang lebih 1.000 personil mulai dikerahkan yang melibatkan polsek, TNI, dan SKD dalam upaya sapu bersih pelaku begal, khususnya di kota Lumajang sendiri.


Pada dasarnya, munculnya aksi pembegalan ini dikarenakan adanya beberapa faktor seperti yang tersebut di atas, yaitu faktor ekonomi, eksternal, dan internal. Dari ketiga faktor ini lah yang dapat menyebabkan generasi muda mengalami krisi moral sehingga memilih jalan pintas sabagai begal untuk memuaskan keinginannya melalui aksi kekerasan yang sangat merugikan masyarakat banyak. Jadi, selain langkah antisipatif seperti yang dilakukan oleh Kapolres Lumajang. Langkah preventif pun juga sangat diperlukan agar tidak bermunculan lagi bibit-bibit begal yang cukup meresahkan di kalangan masyarakat. Adapun langkah preventif yang perlu dilakukan seperti pemberian pengawasan, kasih sayang, dan perhatian oleh orang tua kepada anak-anaknya. Keluarga merupakan pengawas sosial yang seharusnya memberikan pengertian kepada anak-anak tentang peranannya baik di rumah atau pun di lingkup pergaulannya, apa yang perlu dilakukan dan mana yang harus dihindari. Sehingga anak dapat terhindar dari pergaulan yang menyimpang seperti pencurian dengan kekerasan (begal). Selain itu, perlu adanya campur tangan pemerintah dalam langkah preventif ini. Dimana peran pemerintah diupayakan mampu menyeimbangkan antara lapangan pekerjaan dengan pertumbuhan penduduk. Sehingga masyarakat memiliki kualitas hidup yang merata, dan terhindar dari melakukan aksi begal demi kebutuhan hidup sehari-harinya.

4 komentar

  1. perundungan siber (cyber bullying), kayak dlm tulisan sebelumnya, akan jadi faktor apa kalau dimasukkan ke sini?

    khusus malang kota, begal terjadi atas motif apa? soalnya begal tetap kasuistik. jadi, perlu identifikasi agak spesifik. agar, pembaca dan pengunjung blog yang dari malang kota bisa mengambil simpul khusus dari ini. Sebelum dan sesudah dijawab, terima kasih. Salam satu jiwa😍

    ReplyDelete
  2. jika dikaitkan dengan tulisan sebelumnya, lebih cenderung pada faktor eksternal (lingkup pergaulan).

    dilihat dari geografisnya terlebih dahulu. di malang sendiri kawasan yang disinyalir rawan begal masuk lingkup pedesaan atau perkotaan. jika secara geografis masuk pedesaan ada kemungkinan bisa karena faktor eksternal dan ekonomi. namun jika lingkupnya di perkotaan, lebih cenderung pada faktor internal yaitu karena kurangnya pengawasan dan arahan dari orang tua yang notabene lebih sibuk dengan pekerjaannya dari pada memberikan pengawasan sosial terhadap anak-anak mereka..... mungkin yang bisa kami jawab.. SASAJI.. :D

    ReplyDelete
  3. ngeri dengan begal gak ada takutnya, nyawa itu kayak apa saja gampang membunuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak. krisis moral di kalangan muda semakin merasahkan saja, karena cenderung gampang terintervensi dan melakukan tindakan kekerasan. kasian korban dan keluarga yang ditinggalkan.... :(

      Delete