Melihat Fenomena Prank di Kalangan YouTuber dari Perspektif Psikologi

Buat Info - Melihat Fenomena Prank di Kalangan YouTuber dari Perspektif Psikologi

Buatinfo.com - Secara literasi Prank merupakan sebuah lelucon praktikal yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan meng-isengi atau menjahili orang lain untuk sebuah kesenangan. Dampak dari prank itu sendiri adalah timbulnya rasa keheranan, kekagetan, dan ketidak nyamanan pada orang lain yang menjadi korbannya. Namun ironisnya, meskipun tidak sedikit menimbulkan ketidak nyamanan. Konten prank ini masih banyak dipilih oleh sebagian youtuber sabagai menu konten di kanal youtube mereka.


Munculnya fenomena prank di kalangan YouTuber tersebut tentunya bukan tanpa sebab. Pasalnya, terdapat beberapa alasan kenapa konten prank lebih dipilih oleh sebagian dari mereka. Dimana diantara alasan tersebut diantaranya adalah konten prank mampu menaikkan jumlah subscriber, adanya bentuk kepuasan setelah melakukan prank, ingin menunjukkan agresivitas, dan kebutuhan menarik perhatian dengan cara membuat konten-konten sederhana (menghibur), sampai degan konten yang melanggar norma dan etika.

Baru-baru ini, terdapat kasus konten prank yang cukup meresahkan dari beberapa youtuber seperti Hasan dengan konten prank-nya yang menjanjikan jutaan rupiah bagi mereka yang siap membatalkan puasa, dan ada juga yang melakukan prank pocong ibu berdaster yang bertujuan untuk menakut-nakuti orang lian. Lain lagi dengan kasus youtuber satunya, yaitu Ferdian Paleka denga konten prank sembako sampah yang dia buat dengan kedua temannya. Alih-alih memberikan bingkisan makanan dalam wadah kardus kepada transpuan/waria, namun ternyata isinya hanya sampah dan beberapa batu bata. Konten prank sembako sampah Ferdian Paleka ini tentu memancing emosi netizen yang kemudian berujung pada ditahannya sang youtuber oleh pihak kepolisian.

Fenomena prank dari perspektif Psikologi


Bandura, “Faktor Psikologis memiliki andil dalam mempengaruhi perilaku seseorang”.  Oleh karena itu, kita akan mencoba melihat fenomena prank di kalangan YouTuber ini dari perspektif Psikologi.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa perilaku prank yang dibuat oleh sebagian youtuber, salah satunya adalah atas dasar kesenangan atau dalam bahasa Psikologinya dikenal dengan istilah Schadenfreude. Schadenfreude sendiri merupakan perasaan senang atau merasa puas jika melihat atau mendengar orang lain dalam keadaan susah atau sedih. Jadi berangkat dari pemenuhan kepuasan tersebut lah yang memicu pelaku untuk membuat konten prank yang dapat menyebabkan orang lain merasa sedih dan kecewa.

Selain itu, fenomena prank di kalangan YouTuber juga merupakan bentuk dari perilaku Modelling. Karena sebagian dari perilaku manusia sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Jadi dengan melihat dan mengamati keseruan dan hasil dari konten prank orang lain, akan memicu keinginan untuk melakukan hal yang sama. Hanya saja, ada sebagian dari mereka yang salah dalam melakukan observasi terhadap apa yang mereka amati. Sehingga kecenderungan yang muncul adalah kesalahan persepsi sebagaimana yang telah di lakukan oleh Ferdian Paleka. Bagi Ferdian, mungkin konten prank sampah yang dia lakukan hanya sekedar hiburan dan wajar dilakukan.

Namun tidak demikian bagi YouTuber yang melibatkan aspek kognitifnya untuk melakukan observasi terhadap lingkungan sekitar. Tentu mereka akan mampu memilih dan memilah konten apa yang sesuai dengan norma untuk mereka buat, agar bermanfaat bagi orang lain. Seperti yang sering dilakukan oleh YouTuber sekaligus artis ternama Baim Wong dan beberapa YouTuber lainnya.

Pada dasarnya tidak ada masalah dengan pembuatan konten prank, selama konten tersebut sesuai dengan batasan-batasan norma masyarakat, dan memiliki dampak positif bagi orang lain. Semisal prank dengan menyamar sebagai pengemis atau orang gila yang tujuannya adalah ingin berbagi kebahagian dalam bentuk uang atau yang lainnya kepada orang lain yang memerlukan. Tapi jika konten yang dibuat hanya merugikan dan tidak ada faedahnya, sebaiknya tidak perlu dilakukan.

Demikianlah informasi tentang melihat fenomena prank dari perspektif Psikologi. Semoga informasi di atas dapat memberikan manfaat dalam bentuk pengetahuan kepada kita semua. Jangan lupa share and comment. Karena berbagi itu indah.

2 komentar untuk "Melihat Fenomena Prank di Kalangan YouTuber dari Perspektif Psikologi"

Posting Komentar

Berlangganan via Email