Kendala-kendala yang Sering Ditemui Pada Proses Seleksi Karyawan

Buat Info - Kendala-kendala pada proses seleksi karyawan


BuatInfo.com - Bicara tentang sistem seleksi karyawan, mungkin sudah sering kita bicarakan pada artikel-artikel sebelumnya. Baik itu tentang manfaat, tujuan, jenis seleksi, dan seleksi yang efektif itu seperti apa. Dari kesemua artikel tersebut membicarakan tentang keefektifan suatu sistem seleksi. Namun tidak membahas tentang kendala-kendala yang biasa muncul pada awal, pertengahan, dan akhir dari proses seleksi karyawan.


Tentunya yang namanya proses itu tidak akan pernah berjalan mulus. Proses apapun itu pasti akan menemui hambatan atau kendala yang mungkin dapat mengganggu kelancaran tujuan dari proses itu sendiri. Begitu juga dengan proses seleksi karyawan, terdapat beberapa kendala yang sering sekali ditemui.

[Baca Juga: Manfaat Sistem Seleksi Karyawan]

Dalam prosesnya, sering sekali ditemui beberapa kendala meskipun proses tersebut telah direncanakan secara cermat. Mengingat objek dari seleksi adalah manusia yang notabene memiliki akal, dinamika kehidupan, Dan emosi. Adapun kendala-kendala yang dimaksud akan kita bahas selengkapnya pada artikel blog buatinfo.com, kali ini.


Kendala Proses Seleksi Karyawan

Seperti yang tersebut di atas bahwa setiap proses, termasuk proses seleksi karyawan tentunya akan mengalami kendala yang cukup bisa menimbulkan bias pada hasil akhirnya. Adapun kendala pada proses seleksi karyawan diantaranya adalah sebagai berikut:


1. Tolok ukur

Yang dimaksud tolok ukur disini adalah nilai stadar yang digunakan untuk mengukur kualifikasi-kualifikasi yang dibutuhkan. Dan kesulitan yang sering muncul pada proses seleksi adalah tidak adanya nilai standar untuk mengukur kualifikasi seleksi non teknis secara objektif. Misalnya, seperti kejujuran pelamar, loyalitas pelamar, dan inisiatif pelamar. Dan umumnya, bobot nilai yang diberikan pada kualifikasi-kualifikasi tersebut berdasarkan pertimbangan subjektif.


2. Pelamar

Kesulitan ketiga pada proses seleksi adalah sulitnya mendapatkan jawaban yang tepat dari pelamar pada saat sesi interview. Kebanyakan dari mereka akan memberikan jawaban-jawaban yang bersifat defend atau mempertahankan diri. Umumnya mereka selalu berusaha memberikan jawaban positif, dan menyimpan hal-hal negatif tentang diri mereka.


3. Penyeleksi

Kesulitan kedua yang sering ditemui pada proses seleksi adalah minimnya ketersediaan penyeleksi yang qualified, jujur, dan memberikan penilaian secara objektif. Tidak sedikit tentunya kita melihat di lapangan, dimana penyeleksi memberikan nilai atas dasar peranannya, bukan atas dasar fikirannya. Apalagi faktor “kedekatan” sulit sekali untuk ditinggalkan.

[Baca Juga: Faktor Penting dalam Seleksi]

Padahal untuk mencapai sebuah keakuratan, keadilan, dan keyakinan hasil dari sebuah seleksi sangat tergantung pada kemampuan pewawancara atau penyeleksi (Veithzal Rivai 2008, 193). Selain itu, tidak sedikit pula penyeleksi yang gagal dalam mengatasi masala-masalah seleksi diakarenakan beberapa hal, seperti:

- Terlalu mengabaikan informasi penting lainnya dan hanya fokus pada sebagian kecil informasi yang dibutuhkan. Sehingga kurang dapat menggali potensi-potensi lain dari pelamar.

- Terlalu fokus pada aspek teknis pekerjaan dan mengabaikan aspek non teknis seperti emosional pelamar, kejujuran, dan loyalitas.

- Terlalu banyak pertanyaan yang menyimpang, sehingga hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.

- Adanya pertanyaan yang tumpang tindih karena kurang koordinasi antar pewawancara atau penyeleksi.

- Minimnya persiapan, sehingga tidak memiliki point-point pertanyaan yang akan ditanyakan kepada pelamar.

- Kurangnya kecermatan dalam membuat catatan yang cukup.

- Kesalahan dalam menginterpretasikan data informasi yang didapat dari pelamar

- Terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan

Masalah-masalah seperti yang tersebut di atas dapat mempengaruhi kinerja karyawan dan memicu terjadinya pengunduran dini secara tiba-tiba. Itu artinya, proses seleksi yang dilakukan gagal dan membuat cost membengkak. Padahal tujuan dari proses seleksi sendiri adalah untuk mendapatkan “The right man in the right place” (Nitisomo: 2004).


Demikianlah informasi tentang kendala-kendala yang sering ditemui pada proses seleksi karyawan. Semoga informasi di atas dapat memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya bagi mereka praktisi HR agar lebih bisa lagi mengatasi setiap masalah-masalah yang kemungkinan muncul pada saat proses seleksi karyawan berlangsung. Jangan sampai hasil akhir dari proses seleksi menyisakan bias yang dapat memicu kerugian materi bagi perusahaan. Jangan lupa share dan comment, karena berbagi itu indah.

Tidak ada komentar untuk "Kendala-kendala yang Sering Ditemui Pada Proses Seleksi Karyawan"

Berlangganan via Email